Akhirnya hari itu datang juga. Satu hari kerja yang biasanya bergiliran diisi 3 shift dipadatkan menjadi hanya 2 shift . Konsekuensinya jam kerja menjadi lenbih panjang. Dari 8 jam menjadi 12 jam. Lembur otomatis tentu saja.
Banyaknya karyawan yang habis kontrak atau diputus di tengah jalan menjadi penyebabnya. Alasan perusahaan sih karena berkurangnya order dari customer. Tapi sebagian karyawan yang sudah terlanjur skeptis menganggap alasan utamanya adalah agar jumlah karyawan dapat ditekan seminim mungkin pada saat pembagian bonus.
Kiyul tidak ambil pusing dengan rumor itu. Yang jelas sistem 12 jam kerja sudah di depan mata. Dan dia yang baru sekarang ikut sistem itu harus menghadapinya, terutama agar tidak ketinggalan jemputan. Kalau sampai ketinggalan, Kiyul harus naik angkot dan ojek ke tempat kerja yang menghabiskan biaya Rp 13.000,00. Suatu nominal yang tidak bisa dibilang kecil, bagi Kiyul yang meski telah 10 tahun bekerja hanya memiliki gaji 50 ribu di atas UMK.
Mau naik motor, Kiyul belum punya. Sempat terlintas untuk mengambil motor secara kredit seperti sebagian besar temannya. Tapi begitu dikalkulasi ternyata gajinya tidak cukup. Cicilan rumah dan susu anak sudah cukup membuat lehernya serasa tercekik tiap kali gajian.
Pernah sekali waktu Kiyul tertinggal jemputan. Atas nama penghematan, Kiyul naik sepeda ke tempat kerja. Akibatnya seharian dia sukses dijauhi teman-temannya akibat semerbak keringatnya yang aduhai...! Belum lagi atasan yang bolak-balik menegur tiap kali matanya terkatup. Setelah itu Kiyul insyaf dari menggunakan sepeda ke tempat kerja.
Hari ini Kiyul sengaja Shalat Maghrib di masjid yang hanya berjarak 500 meter dari meeting point jemputan, tidak di perumahan seperti biasanya.
Selepas shalat, Kiyul terkejut mendapati carry Bang deden sudah parkir dengan manis. 4 orang sudah duduk di dalamnya.
"Cepat amat, Bang?"
"Bukan terlalu cepat. Kamunya yang telat, Yul. Nih lihat, sudah lewat 3 menit."
"Kan shalat dulu, Bang. Abang sudah shalat?"
Bang Deden tersipu. Kiyul maklum.
"5 menit lagi kalau Parto tidak nongol kita tinggal ya...." dia mengalihkan pembicaraan. Tidak ada yang menjawab. Toh, Bang Deden tiddak butuh jawaban.
"Kamu sudah shalat, Yok?"
"Sudah, dong."
"Sudah? Jam berapa? Perasaan aku baru saja selesai, gak pakai dzikir lagi. Eh, masih kalah cepat juga sama kamu."
"Dipercepat, lah...."
"Dipercepat bacaannya, gitu? Terus gerakannya kaya ayam lagi makan?"
"Gini-gini aku masih berusaha tuma'minah, Yul. Maksudnya waktunya dipercepat. 5 menit lebih awal, gitu."
"Emang boleh?"
:Ini kan darurat, Yul. Kalau darurat, yang haram bisa jadi halal. Yang tidak boleh bisa jadi boleh."
"Darurat bagaimana?"
"Begini. Kamu tahu kan, gaji kita berapa? Kalau sampai telat berarti harus naik angkot. Biaya lagi.... Belum resiko dianggap setengah alpa. Kalau gaji sudah minim harus disunat pula, bagaimana jatah Bapak di kampung? Bisa jantungan dia, disangka pabrik mau tutup. Apalagi tahun ini ankku masuk sekolah. Buat seragam, uang gedung, SPP,... duit lagi Yul. Belum buat 'ngamplopin' panitia pendaftaran. Jadi intinya ini masalah nafkah. Tidak bisa diganggu gugat. Urgent! Krusial! Darurat!"
"Kan bisa shalat di masjid situ. Aku saja masih bisa."
"Tapi telat!" potong Doyok cepat.
Kiyul termangu. Dia bukan ustadz, tapi hatinya mengatakan shalatnya Doyok tidak sah. Kiyul bukan orang suci, tapi baginya shalat adalah wajib, bahkan hingga ajal menjelang. Maka menjalankannya tepat waktu adalah wajib pula.
"Habis gimana? Mau shalat di PT juga tidak bisa. Sudah Isya."
Kiyul gelisah. Ingin dia ungkapkan isi pikirannya, tapi takut temannya tersinggung.
"Aku masih mending, Yul. Kamu lihat itu," Doyok menunjuk ke arah serombongan orang berseragam putih. Jumlahnya tidak kurang dari 20 orang.
"Harusnya jemputannya mereka datang tepat sebelum maghrib tadi. Kayanya hari ini telat jemputannya. Padahal PT merek lebih jauh dari kita. Shalat maghrib dimana mereka?"
"Astaghfirullah," pelan hampir tak terdengar Kiyul beristighfar.
"Bukan salah mereka, Yul. Mereka sama dengan kita. Terjebak oleh sistem.'
Kiyul termangu. Sistem dijadikan alasan. Lantas apakah pembuat sistem juga ikut mennggung dosa? Bagaiman dengan orang-orang seperti dia yang tidak mengingatkan mereka? Istighfarnya makin tak putus-putus.
"Ada yang lebih parah, Yul. Lihat yang di bawah pohon," Doyok menunjuk ke arah sepasang muda-mudi. Yang perempuan mengenakan jeans dan kaos ketat. Duduknya mepet kaya perangko dilem.
Kiyul tercekat.
"Tiap hari dari habis Asar sampai habis Isya mereka 'shalat' di situ." Mereka terus memperhatikan pasangan itu. Tangan sang lelaki melingkar di pinggangnya.
"Busyet!" spontan Kiyul berseru. Lupa dia dengan istighfarnya.
[ Read More ]
Banyaknya karyawan yang habis kontrak atau diputus di tengah jalan menjadi penyebabnya. Alasan perusahaan sih karena berkurangnya order dari customer. Tapi sebagian karyawan yang sudah terlanjur skeptis menganggap alasan utamanya adalah agar jumlah karyawan dapat ditekan seminim mungkin pada saat pembagian bonus.
Kiyul tidak ambil pusing dengan rumor itu. Yang jelas sistem 12 jam kerja sudah di depan mata. Dan dia yang baru sekarang ikut sistem itu harus menghadapinya, terutama agar tidak ketinggalan jemputan. Kalau sampai ketinggalan, Kiyul harus naik angkot dan ojek ke tempat kerja yang menghabiskan biaya Rp 13.000,00. Suatu nominal yang tidak bisa dibilang kecil, bagi Kiyul yang meski telah 10 tahun bekerja hanya memiliki gaji 50 ribu di atas UMK.
Mau naik motor, Kiyul belum punya. Sempat terlintas untuk mengambil motor secara kredit seperti sebagian besar temannya. Tapi begitu dikalkulasi ternyata gajinya tidak cukup. Cicilan rumah dan susu anak sudah cukup membuat lehernya serasa tercekik tiap kali gajian.
Pernah sekali waktu Kiyul tertinggal jemputan. Atas nama penghematan, Kiyul naik sepeda ke tempat kerja. Akibatnya seharian dia sukses dijauhi teman-temannya akibat semerbak keringatnya yang aduhai...! Belum lagi atasan yang bolak-balik menegur tiap kali matanya terkatup. Setelah itu Kiyul insyaf dari menggunakan sepeda ke tempat kerja.
Hari ini Kiyul sengaja Shalat Maghrib di masjid yang hanya berjarak 500 meter dari meeting point jemputan, tidak di perumahan seperti biasanya.
Selepas shalat, Kiyul terkejut mendapati carry Bang deden sudah parkir dengan manis. 4 orang sudah duduk di dalamnya.
"Cepat amat, Bang?"
"Bukan terlalu cepat. Kamunya yang telat, Yul. Nih lihat, sudah lewat 3 menit."
"Kan shalat dulu, Bang. Abang sudah shalat?"
Bang Deden tersipu. Kiyul maklum.
"5 menit lagi kalau Parto tidak nongol kita tinggal ya...." dia mengalihkan pembicaraan. Tidak ada yang menjawab. Toh, Bang Deden tiddak butuh jawaban.
"Kamu sudah shalat, Yok?"
"Sudah, dong."
"Sudah? Jam berapa? Perasaan aku baru saja selesai, gak pakai dzikir lagi. Eh, masih kalah cepat juga sama kamu."
"Dipercepat, lah...."
"Dipercepat bacaannya, gitu? Terus gerakannya kaya ayam lagi makan?"
"Gini-gini aku masih berusaha tuma'minah, Yul. Maksudnya waktunya dipercepat. 5 menit lebih awal, gitu."
"Emang boleh?"
:Ini kan darurat, Yul. Kalau darurat, yang haram bisa jadi halal. Yang tidak boleh bisa jadi boleh."
"Darurat bagaimana?"
"Begini. Kamu tahu kan, gaji kita berapa? Kalau sampai telat berarti harus naik angkot. Biaya lagi.... Belum resiko dianggap setengah alpa. Kalau gaji sudah minim harus disunat pula, bagaimana jatah Bapak di kampung? Bisa jantungan dia, disangka pabrik mau tutup. Apalagi tahun ini ankku masuk sekolah. Buat seragam, uang gedung, SPP,... duit lagi Yul. Belum buat 'ngamplopin' panitia pendaftaran. Jadi intinya ini masalah nafkah. Tidak bisa diganggu gugat. Urgent! Krusial! Darurat!"
"Kan bisa shalat di masjid situ. Aku saja masih bisa."
"Tapi telat!" potong Doyok cepat.
Kiyul termangu. Dia bukan ustadz, tapi hatinya mengatakan shalatnya Doyok tidak sah. Kiyul bukan orang suci, tapi baginya shalat adalah wajib, bahkan hingga ajal menjelang. Maka menjalankannya tepat waktu adalah wajib pula.
"Habis gimana? Mau shalat di PT juga tidak bisa. Sudah Isya."
Kiyul gelisah. Ingin dia ungkapkan isi pikirannya, tapi takut temannya tersinggung.
"Aku masih mending, Yul. Kamu lihat itu," Doyok menunjuk ke arah serombongan orang berseragam putih. Jumlahnya tidak kurang dari 20 orang.
"Harusnya jemputannya mereka datang tepat sebelum maghrib tadi. Kayanya hari ini telat jemputannya. Padahal PT merek lebih jauh dari kita. Shalat maghrib dimana mereka?"
"Astaghfirullah," pelan hampir tak terdengar Kiyul beristighfar.
"Bukan salah mereka, Yul. Mereka sama dengan kita. Terjebak oleh sistem.'
Kiyul termangu. Sistem dijadikan alasan. Lantas apakah pembuat sistem juga ikut mennggung dosa? Bagaiman dengan orang-orang seperti dia yang tidak mengingatkan mereka? Istighfarnya makin tak putus-putus.
"Ada yang lebih parah, Yul. Lihat yang di bawah pohon," Doyok menunjuk ke arah sepasang muda-mudi. Yang perempuan mengenakan jeans dan kaos ketat. Duduknya mepet kaya perangko dilem.
Kiyul tercekat.
"Tiap hari dari habis Asar sampai habis Isya mereka 'shalat' di situ." Mereka terus memperhatikan pasangan itu. Tangan sang lelaki melingkar di pinggangnya.
"Busyet!" spontan Kiyul berseru. Lupa dia dengan istighfarnya.







