#Post Title #Post Title #Post Title
Kamis, 24 Maret 2011

Maghrib Itu....

Akhirnya hari itu datang juga.  Satu hari kerja yang biasanya bergiliran diisi 3 shift dipadatkan menjadi hanya 2 shift .  Konsekuensinya jam kerja menjadi lenbih panjang.  Dari 8 jam menjadi 12 jam.  Lembur otomatis tentu saja.

Banyaknya karyawan yang habis kontrak atau diputus di tengah jalan menjadi penyebabnya. Alasan perusahaan sih karena berkurangnya order dari customer.  Tapi sebagian karyawan yang sudah terlanjur skeptis menganggap alasan utamanya adalah agar jumlah karyawan dapat ditekan seminim mungkin pada saat pembagian bonus.

Kiyul tidak ambil pusing dengan rumor itu.  Yang jelas sistem 12 jam kerja sudah di depan mata.  Dan dia yang baru sekarang ikut sistem itu harus menghadapinya, terutama agar tidak ketinggalan jemputan. Kalau sampai ketinggalan, Kiyul harus naik angkot dan ojek ke tempat kerja yang menghabiskan biaya Rp 13.000,00.  Suatu nominal yang tidak bisa dibilang kecil, bagi Kiyul yang meski telah 10 tahun bekerja hanya memiliki gaji 50 ribu di atas UMK.

Mau naik motor, Kiyul belum punya.  Sempat terlintas untuk mengambil motor secara kredit seperti sebagian besar temannya.  Tapi begitu dikalkulasi ternyata gajinya tidak cukup.  Cicilan rumah dan susu anak sudah cukup membuat lehernya serasa tercekik tiap kali gajian.

Pernah sekali waktu Kiyul tertinggal jemputan.  Atas nama penghematan, Kiyul naik sepeda ke tempat kerja. Akibatnya seharian dia sukses dijauhi teman-temannya akibat semerbak keringatnya yang aduhai...!  Belum lagi atasan yang bolak-balik menegur tiap kali matanya terkatup.  Setelah itu Kiyul insyaf dari menggunakan sepeda ke tempat kerja.

Hari ini Kiyul sengaja Shalat Maghrib di masjid yang hanya berjarak 500 meter dari meeting point jemputan, tidak di perumahan seperti biasanya.

Selepas shalat, Kiyul terkejut mendapati carry Bang deden sudah parkir dengan manis.   4 orang sudah duduk di dalamnya.

"Cepat amat, Bang?"

"Bukan terlalu cepat.  Kamunya yang telat, Yul.  Nih lihat, sudah lewat 3 menit."

"Kan shalat dulu, Bang.  Abang sudah shalat?"

Bang Deden tersipu.  Kiyul maklum. 

"5 menit lagi kalau Parto tidak nongol kita tinggal ya...."  dia mengalihkan pembicaraan.  Tidak ada yang menjawab.  Toh, Bang Deden tiddak butuh jawaban.

"Kamu sudah shalat, Yok?"

"Sudah, dong."

"Sudah?  Jam berapa?  Perasaan aku baru saja selesai, gak pakai dzikir lagi.  Eh, masih kalah cepat juga sama kamu."

"Dipercepat, lah...."

"Dipercepat bacaannya, gitu? Terus gerakannya kaya ayam lagi makan?"

"Gini-gini aku masih berusaha tuma'minah, Yul.  Maksudnya waktunya dipercepat.  5 menit lebih awal, gitu."

"Emang  boleh?"

:Ini kan darurat, Yul.  Kalau darurat, yang haram bisa jadi halal.  Yang tidak boleh bisa jadi boleh."

"Darurat bagaimana?"

"Begini.  Kamu tahu kan, gaji kita berapa?  Kalau  sampai telat berarti harus naik angkot.  Biaya lagi....  Belum resiko dianggap setengah alpa.  Kalau gaji sudah minim harus disunat pula, bagaimana jatah Bapak di kampung?  Bisa jantungan dia, disangka pabrik mau tutup.  Apalagi tahun ini ankku masuk sekolah.  Buat seragam, uang gedung, SPP,... duit lagi Yul.  Belum buat 'ngamplopin' panitia pendaftaran.  Jadi intinya ini masalah nafkah.  Tidak bisa diganggu gugat.  Urgent!  Krusial!  Darurat!"

"Kan bisa shalat di masjid situ.  Aku saja masih bisa."

"Tapi telat!" potong Doyok cepat.

Kiyul termangu.  Dia bukan ustadz, tapi hatinya mengatakan shalatnya Doyok tidak sah.  Kiyul bukan orang suci, tapi baginya shalat adalah wajib, bahkan hingga ajal menjelang.  Maka menjalankannya tepat waktu adalah wajib pula.

"Habis gimana?  Mau shalat di PT juga tidak bisa.  Sudah Isya."

Kiyul gelisah.  Ingin dia ungkapkan isi pikirannya, tapi takut temannya tersinggung.

"Aku masih mending, Yul.  Kamu lihat itu,"  Doyok menunjuk ke arah serombongan orang berseragam putih.  Jumlahnya tidak kurang dari 20 orang.

"Harusnya jemputannya mereka datang tepat sebelum maghrib tadi.   Kayanya hari ini telat jemputannya.  Padahal PT merek lebih jauh dari kita.  Shalat maghrib dimana mereka?"

"Astaghfirullah," pelan hampir tak terdengar Kiyul beristighfar.

"Bukan salah mereka, Yul.  Mereka sama dengan kita.  Terjebak oleh sistem.'

Kiyul termangu.  Sistem dijadikan alasan.  Lantas apakah pembuat sistem juga ikut mennggung dosa?  Bagaiman dengan orang-orang seperti dia yang tidak mengingatkan mereka?  Istighfarnya makin tak putus-putus.

"Ada yang lebih parah, Yul. Lihat yang di bawah pohon," Doyok menunjuk ke arah sepasang muda-mudi.  Yang perempuan mengenakan jeans dan kaos ketat.   Duduknya mepet kaya perangko dilem.

Kiyul tercekat.

"Tiap hari dari habis Asar sampai habis Isya mereka 'shalat' di situ."  Mereka terus memperhatikan pasangan itu.  Tangan sang lelaki melingkar di pinggangnya.

"Busyet!"  spontan Kiyul berseru.  Lupa dia dengan istighfarnya.
[ Read More ]
Rabu, 02 Maret 2011

Gara-gara Sakazaki

Siang teramat panas. Ibu-ibu terlibat dalam pembicaraan sengit dengan topik tak kalah panas: bakteri sakazaki. Rujak mentimun plus jambu dengan sambal ekstra pedas membuat suasana makin panas.

“Konon tuh bakteri bahaya banget. Kok bisa-bisanya ya, nyempil di susu formula,” kata Bu Iim geregetan.

“Betul. Mana merknya nggak ketahuan. Sampai merah mata melototin TV, nggak juga diumum-umumin,” timpal Bu Ndang, si tukang kompor.

“Nunggu pengumuman apa nonton sinetron, Bu?”

“Ah,... Bu Asih,” Bu Ndang tersipu.

“Tapi apa benar bakteri itu berbahaya? Perasaan ribut-ribut, tidak pernah dengar ada yang sakit gara-gara tuh bakteri,” Si Kimut alias emaknya Ipah dok kritis.

“Hmmm.... Betul juga, ya. Memang pernah ada?”

“Ada lagi, Bu. Makanya nonton berita sesekali. Ada yang pernah dirawat di Rumah Sakit gara-gara tuh Zaki,” Bu Popon si Betawi tulen langsung nyambar kaya gas kena api. “Tahu dah, siapa namanya. Lupa. Yang jelas gara-gara si Zaki, tuh bocah sekarang pencernaannya kagak bener. Umur sudah 5 tahun, tapi kagak bisa makan yang keras-keras. Bubuuuur terus tiap hari. Apa kagak kasian, tuh....”

“Serem! Sudah tahu ada korban, kok pemerintah ndak tanggap, ya? Mbok ya diumumin, biar masyarakat tahu susu apa yang bahaya. Biar ndak jatuh korban lagi,” kali ini Bu Marti dengan logat khas Solo.

“Ehm!” Bu RT berdehem. Menarik perhatian ibu-ibu sekaligus mengumpulkan kewibawaan. Dia mulai mengatur duduknya, mencari posisi yang nyaman. Sebagai bagian dari pemerintah level paling rendah, dia merasa perlu meluruskan persepsi warganya.

“Ibu-ibu, … pemerintah itu dalam posisi dilematis. Di satu sisi ingin mengumumkan, di sisi lain ada wilayah yang tidak bisa dilanggar. Yang meneliti sampel susu formula dan menemukan bakteri sakazaki itu dari IPB. Bukan dari pemerintah. Jadi pemerintah mesti menghormati IPB sebagai pihak yang menemukan. IPB sendiri sama dilematisnya. Tidak bisa sembarangan mengumumkan. Dia terikat kode etik tentang kerahasiaan obyek penelitian.”

“Tidak bisa begitu dong, Bu. Ini kan masalah kemaslahatan masyarakat.”

“Iya. Tapi yang yang namanya kode etik, itu harus tetap dijaga.  Kalau tidak dijaga, bisa berantakan tatanan masyarakat”

“Saya paham dengan semua dilema itu, Bu,” Bu Titi sang calon pengacara yang gagal mulai angkat bicara.

“Masalahnya kalau memang pihak pemerintah dan IPB sadar kalau mereka tidak bisa mengumumkan merk susu yang tercemar, kenapa mesti bilang ada susu yang tercemar? Mbok ya disimpan saja rapat-rapat. Bukankah ini artinya pemerintah dan IPB yang membuat resah masyarakat? Harus bertanggung jawab dong, pemerintah dan IPB dengan apa yang telah merka lakukan. Lagipula putusan MA sudah jelas, kok. Merk susu itu harus diumumkan. Kalau pemerintah saja tidak taat hukum, bagaimana mungkin mengharapkan masyarakat yang taat hukum?”

“Saya tahu, Bu Titi. Tapi saya juga yakin pemerintah punya pertimbangan yang matang dalam bertindak. Banyak aspek yang harus diperhitungkan. Tidak seperti kita yang hanya melihat dari kepentingan pribadi semata. Lagipula kan sudah ada solusinya. Bakteri sakazaki kan mati pada suhu 70 derajat Celcius. Jadi ya sudahlah, tinggal seduh saja dengan air panas. Gampang, kan?”

“Kalau mesti diseduh dengan air panas, bakteri baiknya ikut mati dong, Bu,” sergah Kimut.  "Kalau bakteri baiknya mati, buat apa minum susu?  Mendingan minum air putih."

"Memang ada bakteri yang baik, Bu?"

"Lha itu, lactobacillus protectus yang sering di iklan-iklan itu memang apa?"

"Itu bakteri, to?"

"Bakteri, Bu.  Baik untuk pencernaan," jawab Kimut bangga.  "Katanya tapi, lho...." sambungnya dalam hati.

Ibu-ibu terdiam.  Entah paham, pusing, atau karena keasyikan makan rujak.  Sementara di balik pintu,  Kiyul yang sedari tadi nguping seperti menemukan ide yang menurutnya sangat brilian.


***

"Bedanya susu formula sama susu full cream apa sih, Bu?" tanya Kiyul.

"Ya beda lah, Pak.  Yang jelas kandungannya lain," jawab Kimut sembari melipat pakaian.

"Kalau umur 2 tahun boleh dikasih susu full cream boleh nggak, Bu?"

"Ya, boleh saja.  Memang kenapa?"

"Kan sekarang lagi heboh bakteri sakazaki di susu formula.  Sementara merk  susu yang tercemar kita tidak tahu.  Demi amannya, bagaimana kalau susunya Ipah diganti dulu dengan susu full cream?"

"Boleh saja.  Asal Ipah tidak mencret," jawab Kimut setelah terdiam sesaat.

"Yes!"  Kiyul bersorak dalam hati.

Sebenarnya alasan utama Kiyul mengajukan susu full cream bukan karena maslah sakazaki, tapi lebih karena biaya.  Harga susu full cream 800 gram sekitar 45 ribu.  Sementara susu formula 60 ribu.  Sebulan Ipah biasa menghabiskan 4 kotak.  Berarti 240 ribu. Nominal yang cukup besar untuk Kiyul yang gajinya masih di kisaran UMR.


***

"Bagaimana?  Mencret nggak Si Ipah?"

"Aman.  Cocok kayanya dia."

"Alhamdulillah."  Otak Kiyul langsung bekerja cepat menghitung penghematan yang bisa dilakukannya.

"Tapi besok mesti beli lagi, Pak."

"Lho, kok?"

"Tuh, lihat.  Sudah hampit habis."

"Bukannya biasanya 1 kotak buat seminggu?"

"Lah, ... anaknya doyan.  Susu full cream kan enak.  Kalau anaknya minta masak nggak dibikinin?"

Kiyul termangu.  Otaknya yang tadi seolah begitu cerdas tiba-tiba dirasakannya tumpul, tak mampu menhitung uang yang mesti dibelikan susu bulan ini.



[ Read More ]